Pages

Sabtu, 05 November 2011

.. Cahaya di Atas Cahaya ..

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara yang dinyalakan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahayanya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan dari mendirikan sholat, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (dihari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka yang mengerjakan demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunianya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS An-Nur: 35-38)


Ya Allah Ya Nur, 
siramilah kami dengan cahaya-Mu
suburkanlah hati kami dengan kasih sayang-Mu


Ya Allah Ya Rabbi,
Berilah kami pengetahuan  seperti pengetahuan para Nabi,
Berilah kami pemahaman seperti pemahaman para Rasul,
Berilah kami ilham seperti ilham para malaikat


Selamat belajar semuanya dan
Selamat Idul Adha, Yuk kita takbiran :)

Kamis, 03 November 2011

Jangan takut Dong


Masih ingat kah dengan kisah nabi Muhammad bersama sahabatnya di dalam gua ketika berada begitu dekat dengan pasukan musuh? Untuk merefresh memori kita yuk kita lihat penggalan kisahnya di dalam kitab suci kita:

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS At-Taubah: 40)

La tahzan, innallaha ma’ana.. Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Kata-kata itulah yang keluar dari Rasulullah kepada sahabatnya dan dengan itulah Allah turunkan ketenangan dalam hati serta Allah kirimkan bala tentaranya. Allah, Dia yang selalu menyertai kita dalam setiap langkah, dalam setiap tarikan nafas kita, ada Allah yang senantiasa mengawasi dan menjaga kita. Jadi ketika rasa takut menghampiri, katakan selalu “Wahai hati, jangan takut, La tahzan, innallaha ma’ana..” karena selalu ada Allah dengan ‘tangan-tangan’-Nya.

.:: Ada Allah dan 'tangan-tangan'-Nya

Allah bersama kita, mau sembunyi di benteng terkokoh atau di bawah tanah sekali pun, kita tidak akan pernah luput dari pengawasan-Nya. Banyak sekali ayat di dalam Al-Qur’an yang terus menerus mengingatkan kita akan hal itu.. Yuk kita cek bersama..

“...Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada...” (QS Al-Hadid: 4)

“Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi.” (QS Al Fajr: 14)

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (QS Asy-Syu’ara’: 218-219)

Kekasih mana sih yang selalu menemani kita, dalam setiap keadaan kita kalau bukan Allah. Tidak ada yang tersembunyi bagi Allah, bahkan isi hati kita sekalipun. Tanpa kita harus bilang, Allah sudah tahu isi hati kita.

“...’Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui’.” (QS Ali Imran:29)

Oya tambahan nii karena Allah selalu mengawasi maka penting pula untuk kita selalu mawas dalam bertindak, di dalam hati dan di dalam aktivitas fisik kita. Upaya untuk senantiasa merasa diawasi Allah atau muraqabah bisa membuat kita selalu menjaga hati dari segala kotoran, menjaga kita dari kepalsuan niat, menjaga kita dari setiap noda yang akan membuat Allah mengurangi rahman-Nya untuk kita. Dengan mengingat Allah, kita tidak akan bersedih ketika rasa takut datang dan kita akan selalu berhati-hati dalam bertindak.

Mudah-mudahan kita tetap istiqomah dalam beribadah dan jangan takut.. karena Allah selalu bersama kita :)

Selasa, 01 November 2011

Kok Nggak Sempurna?


Salah seorang dosen di sela perkuliahan faal respirasi mengatakan:

“Mengapa traktus respiratorius kita berada di depan, di anterior dari traktus digestivus kita? Padahal lokasi anatomi ini sangat memungkinkan untuk kita tersedak ketika sedang makan.”

Sesaat setelah menyampaikan pertanyaan itu, beliau menjawabnya sendiri:

“Ketika kita tidur, air liur itu tetap diproduksi. Ada yang keluar dalam bentuk ‘ngeces’ dan ada juga yang masuk. Posisi tidur kita akan membuat air liur yang masuk itu memasuki saluran makan, bukan saluran napas karena pengaruh gravitasi dan posisi tubuh. Seandainya saluran napas kita dibelakang tentulah kita tidak akan hidup sampai sekarang karena paru-paru kita telah dipenuhi oleh air liur. Ciptaan Allah seakan-akan tampak tidak sempurna padahal kita hanya perlu lebih membuka hati dan menajamkan pikiran. Tidak ada yang tidak sempurna dalam ciptaannya Allah.”

Dan Allah pun berfirman:

“Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih.” (QS Al-Mulk: 3-4)

Hanya diperlukan sedikit keterbukaan hati dan ketajaman pikiran. Mari kita kaji ciptaan-Nya. Adakah yang cacat? Kalau masih berpikir ada yang tidak sempurna, yuk kita kaji bersama :) 

Tempat Ternyaman Itu

Selama kurang lebih sembilan belas tahun saya hidup di lingkungan yang sangat nyaman. Berada di tengah-tengah keluarga, mau makan sudah tersedia, baju-baju serta buku-buku bisa dengan mudah saya dapat. Kampus pun dekat, tinggal jalan beberapa langkah saja. Dan di akhir minggu sesekali kakak-kakak saya datang berkunjung ke rumah dan pergilah kami sekeluarga ke mana pun kami mau. Segala bentuk kesenangan dan kenyamanan menjadi sangat mudah di dapatkan. Hingga suatu malam saya terpikir untuk sekali waktu mencoba hidup lebih mandiri dan keluar dari tempat ternyaman itu. Dan di saat itulah Allah meneguhkan hati saya untuk mencoba merantau, tidak terlalu jauh, hanya dua jam perjalanan dari tempat ternyaman itu.

Saya memutuskan mengambil cuti untuk mempersiapkan kepindahan itu dengan sebaik-baiknya, dengan upaya paling keras yang bisa saya lakukan pada saat itu. Inilah awal perpisahan saya dari salah satu lingkungan terbaik yang saya punya, yaitu kampus hijau tempat saya bertemu teman-teman terhebat yang pernah saya kenal. Kampus dengan dosen-dosen luar biasa, dengan teman-teman terbaik, dengan lingkungan paling hijau, dengan segala bentuk kenyamanan dimana saya bisa belajar untuk lebih mengenal Sang Khaliq dalam diri saya sendiri.

Awal perpisahan itu yang mulanya disertai dengan rasa takut dan rasa ragu berubah menjadi keyakinan untuk tetap melangkah, tetap pada keyakinan bahwasanya mengikuti ujian masuk universitas di tahun terakhir saya adalah hal yang tidak mudah, tapi pasti bisa. Terus melangkah dan terus memohon, hingga tibalah hari penerimaan itu dan berangkatlah saya mengisi chapter baru dalam buku kehidupan.

Alhamdulillah kehidupan di rantau saya jalani dengan cukup baik, pengalaman-pengalaman baru saya dapatkan, kawan-kawan baru saya temui di sini. Hidup sudah banyak berubah sejak saat pertama kali saya berada di sini. Alhamdulillah pelajaran-pelajaran baru dan pelajaran kehidupan deras menghujani hari-hari saya. Alhamdulillah kesempatan untuk terus berkembang datang menyapa. Alhamdulillah di rantau inilah saya bisa belajar untuk menjadi menjadi guru les, belajar menjadi kakak mentor, belajar berhemat dan menabung dari hasil kerja, belajar untuk selalu menjawab tantangan tanpa mengesampingkan kehidupan akademik saya. Di luar zona nyaman inilah saya bisa belajar untuk melawan diri saya sendiri, melawan keinginan-keinginan untuk merasa sudah mapan dan tidak perlu lagi berusaha.

Namun waktu kembali menyapa, menginjak tahun kedua saya di rantau, mulailah timbul rasa rindu kepada semua kenyamanan saat itu. Rasa rindu kepada teman dan rindu yang teramat kepada keluarga. Saya tidak menyesal, justru rindu inilah yang terus membakari semangat saya. Terus menggelorakan perjuangan di rantau untuk segera menyelesaikan studi dan kembali pulang menjemput amanah-amanah yang telah menanti. Tahun kedua ini, di usia saya yang ke-21, sekali waktu saya kembali mengunjungi tempat ternyaman. Bertemu dengan sahabat-sahabat dari SMA  yang tentunya sudah banyak berubah. Sudah ada yang mengerjakan skripsi dan sudah ada yang bekerja. Sedangkan saya, masih berada di tahun kedua, mempelajari kembali ilmu-ilmu dasar sebagai bekal menghadapi tahapan selanjutnya. Dan saya katakan, empat atau lima tahun lagi bukanlah waktu yang sangat lama. Akan segera tiba masanya saya kembali pulang mengurai kenangan-kenangan terindah di tempat ternyaman.

.:: Kembali ke tempat ternyaman itu, ke kota kelahiranku..

Mudah-mudahan ke Malanglah saya akan kembali, berkumpul bersama keluarga lagi dan menyambut kelahiran keponakan-keponakan saya yang kelima, keenam, dan mungkin yang ketujuh. Mudah-mudahan ke Malanglah tempat kembali saya, setelah beberapa tahun berhijrah, untuk membangun keluarga kecil saya dan mendidik anak-anak saya kelak. Di kota ternyaman ini, yang dipenuhi siraman cintanya Ar Rahman, ingin saya menghamba, mengabdi, belajar, dan bekerja. Ke tempat ternyaman itulah saya ingin segera pulang..   

Jumat, 16 September 2011

Cinta dari Yang Terdekat

Ceritanya sore ini saya berencana untuk pulang ke malang pukul 15.20 bersama empat orang teman yang lain. Eh ternyata, berhubung sepertinya pulang jam segitu terlalu mepet, jadinya saya berganti pulang pukul 16.20 sedangkan teman-teman yang lain mendahului pulang sesuai rencana awal. “Wah jadi pulang sendiri ya”, pikirku.

Selangkah keluar dari pagar kos dalam hati, hanya dalam hati saya cuma berharap aja pengen gitu ya ketemu temen di jalan dengan tujuan yang searah, jadinya dapat tumpangan gitu ke gubeng, lumayan capek juga soalnya *hehe :P

Setelah beberapa langkah, saya ketemu ni sama tiga orang temen saya yang pada bawa tas besar-besar. Terjadilah tegur sapa dan percakapan kecil:

M:  “Eh, pada mau pulang juga ya. Ke Blitar ya? Waa barengan kalau gitu.. kok ga nyebrang?”
I : “Iya ini mau naik Lyn Myr.”
M: “Waa kalo gitu sampe ketemu ya ntar di gubeng, aku jalan kaki duluan ya, soalnya takutnya telat. Dadaaaa ;)”

Baru beberapa langkah kecil untuk menyeberang salah satu dari mereka memanggil:
A: “Myyyyyyr, yuk barengan, kita naik taxi.”
M: “Wa aku ga ada uang Yu, maaf yaa.”
A: “Gapapa Myr, aku yang bayarin.”
M: “Waaa, asik nii makasi yaa.”

Dasar saya yang udah seneng dapat tawaran gitu langsung aja mengiyakan. Jadilah kita berempat naik taxi ke gubeng, asik asik, adem, ga capek, bisa senderan pula. 

Sampe di gubeng ternyata dua orang temen yang tadinya berangkat dengan rencana awal pukul 15.20 ternyata masih ada di stasiun dan menyapa saya. Dua teman yang lain sudah berangkat duluan. Jadi ceritanya dua temen saya ini ketinggalan kereta. Jadilah kita akhirnya beramai-ramai pulang. Saya, dua orang teman dengan rencana awal, tiga teman ke Blitar, plus tiga adek angkatan asal malang yang juga berencana pulang. Sambil menunggu kerena, kita juga sempat lo belajar tentang pengukuran JVP yang kemarin baru diajarkan dokter Ami. Subhanallah sekaliiii, ini sih udah melebihi harapan saya. Inilah bukti tanda cinta dari Yang Terdekat. 

Ingat JVP, ingat v.Jugularis externa, ingat a. Carotis communis, ingat “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat padanya daripada urat lehernya.” (QS Qaf:16) 

Rabu, 27 Juli 2011

SERI CALON IBU #1

Tanpa disadari, seorang wanita dewasa telah disiapkan untuk menjadi calon ibu. Mengapa demikian? Jika kita mempelajari sistem reproduksi wanita maka akan kita temukan bahwasanya setiap harinya terjadi perubahan siklik di dalam ovarium dan uterus wanita mulai dari tingkat molekuler, sel, hingga sistem organ untuk mendukung terjadinya kehamilan. 


Ovarium setiap harinya menyiapkan beberapa folikel untuk dikembangkan hingga mencapai kematangan. Di dalam perjalanannya, beberapa folikel mengalami kematian (atresia) dan hanya tersisa satu folikel untuk mencapai kematangan sempurna. Ketika hendak mencapai masa ovulasi, folikel berisi sel telur (oosit) siap dilepaskan ke saluran telur (tuba fallopii) untuk selanjutnya menunggu datangnya sel sperma di bagian ampulla tuba fallopii.


Di sisi lain, uterus setiap harinya menyiapkan diri untuk menjadi tempat perlekatan atau tempat tinggal sementara bagi sel telur yang sudah dibuahi oleh sel sperma di mana nantinya hasil konsepsi tersebut akan berkembang menjadi janin. Ya, setiap harinya seorang wanita secara anatomi dan fisiologi telah dipersiapkan untuk menjadi seorang calon ibu. Mulai tingkat molekuler, sel, hingga sistem organ, seorang wanita telah Allah siapkan untuk menjadi calon ibu.

 .:: Dan sel pun telah bersiap menjadi janin


Jika secara fisik seorang wanita telah bersiap menjadi seorang calon ibu, sekarang mari kita melihat ke dalam hati dan jiwanya. Apakah ia telah menyiapkan dan menata hari serta jiwanya untuk menjadi seorang calon ibu? Apakah seorang wanita bisa dikatakan benar-benar siap menjadi seorang calon ibu? 


Sekalipun tidak mudah, menjadi ibu yang baik bukanlah sesuatu yang mustahil. Mendidik, membentuk pola pikir, menanamkan kebiasaan hidup yang Islami, serta memberikan asupan gizi yang terbaik bagi anak adalah sebagian tugas yang harus diperhatian oleh seorang ibu. Tidak ada salahnya jika dari sekarang kita para wanita menyiapkan datangnya masa itu dengan sebaik-baik persiapan, sehingga  keluaran yang dihasilkan bisa sesuai dengan yang diharapkan.


Salah satu hal yang cukup sederhana yang bisa kita persiapkan adalah belajar bagaimana memberikan asupan gizi yang optimal bagi tumbuh kembang anak-anak kita kelak. Menyiapkan makanan yang nikmat, menarik, serta sarat dengan gizi. Semisal memberikan sarapan berupa sandwich, yaitu roti yang berisi sayuran dan daging serta segelas susu hangat. Menyiapkan bekal sekolah untuk snack istirahat anak berupa kue dan buah. Menu makan siang berupa nasi sayur dengan berbagai lauk pauk serta segelas juice buah. Dan tak lupa menu maan malam berupa nasi sayur dengan lauk serta segelas susu hangat untuk pertumbuhan anak yang optimal di malam hari.

 .:: Makanan yang bergizi untuk tubuh kembang optimal anak

.:: Menyiapan makanan yang menarik tapi juga menyehatkan


Untuk hal sederhana tersebut, yuk kita sisihkan waktu luang yang kita punya untuk bereksperimen, berlatih dalam laboratorium dapur untuk menyiapkan makanan bergizi yang terbaik bagi anak-anak kita kelak.  

Jika tubuh kita telah bersiap diri untuk menjadi calon ibu maka hati dan jiwa kita juga harus ditata ya untuk bersiap menjadi ibu. Lakukan persiapan-persiapan, langkah sederhana untuk menyambut datangnya masa itu.

Yuk, bersiap menjadi calon ibu yang baik =)

NB:
Oya sekedar info ni, ini loh keponakan saya yang waktu itu, udah delapan bulan sekarang. 

 Lucu kan yaa.. bikin kangeenn. Moga sehat selalu dan bisa menjadi kebanggaan agama, negara, dan keluarga ya Khansa :)

Refleksi Ramadhan #1: “Masih ingat tiga tahun yang lalu?”

Hari ini tepat satu minggu menjelang Ramadhan. Ya syukur Alhamdulillah Allah masih memberikan saya kesempatan di usia yang ke-21 ini untuk bertemu dengan hari ini. Ramadhan sudah di depan mata, tetapi rasanya belum banyak persiapan yang saya lakukan. Ramadhan yang selalu dinanti, rasanya akan sangat berbeda tahun ini. Libur kuliah, tapi ada di rantau dan jauh dari keluarga.

Ketika malam-malam saya mencoba googling nama saya sendiri, di tengah-tengah berbagai pilihan data saya menemukan nama saya yang diketik oleh teman kuliah di malang dulu. Dia menceritakan beberapa hal yang dia lihat dari saya dan untuk beberapa saat saya tersentak dengan apa yang ditulisnya. Rasanya saya tiga tahun yang lalu, saya sangat bersemangat dan berani bermimpi. Ada perbedaan nilai yang saya pegang dulu dan sekarang. Malam ini Allah mengingatkan saya, seperti apa saya dulu dan seperti apa saya yang sekarang. Ada beberapa kemajuan, tapi ada beberapa kemunduran. 

Tiga tahun yang lalu, di usia yang ke-18, saya masih sangat bersemangat dan saya masih ingat di sela-sela ospek dulu saya bisa ketawa-ketawa dengan teman-teman, ya pokoknya saya dulu dikenal super berisik. Tapi itu bisa dilihat sebagai nilai plus karena saya bisa akrab dengan banyak teman di angkatan.

Tiga tahun yang lalu, berbagai organisasi intern kampus tercantum nama saya sebagai anggota, ada di BEM, LKI, LSIM, LAKESMA, dan MSCIA. Lima organisasi kampus saya masuki, berbagai kepanitiaan saya ikuti, bermacam-macam teman saya akrabi, tapi ya Alhamdulillah nilai kuliah saya ya baik-baik aja. Ya ndak extreme bagusnya, ya Alhamdulillah Allah ngasihnya bisa cumlaude. Makasi banyak ya Allah..

Saya yang sekarang berusia 21, berada di kampus yang baru, berada di angkatan yang seharusnya menjadi adik tingkat saya, rasanya saya sudah banyak berubah. Perbedaan lingkungan yang sangat nyata membuat nilai yang saya pegang pun ikut berubah. Lingkungan yang tadinya sangat religius diubah menjadi sangat memprioritaskan akademis (saya ndak tahu ini istilahnya apa ya). Yang tadinya saya bisa mengikuti banyak organisasi, sekarang mengikuti satu saja ndak terlalu aktif, ya karena memang muatan pendidikan yang diberikan dosen berbeda. Keadaan saya yang sekarang menuntut untuk berada di meja belajar lebih lama dan mengurangi kegiatan di laboratorium pertemanan. Untuk mendapat nilai yang sama baiknya dengan dulu perlu jerih payah ekstra padahal kegiatan saya ikuti bisa dikatakan minim.

Tiga tahun yang lalu, saya memiliki saudari-saudari kelompok liqo yang selalu mengingatkan saya kalau saya punya salah, sekarang Allah memberikan ganti saudari-saudari di rantau, sama baiknya, tapi karena usia saya yang lebih tua, saya lihat mereka punya rasa sungkan sama saya. Intensitas menghadiri kajian pun berkurang. Yang lebih sekarang porsi membaca dan menghapalkan diktat. Saya bersyukur Allah memberikan saya kesempatan untuk menimba ilmu dari dosen-dosen senior yang banyak memberikan pencerahan, tapi dengan itu ada beberapa hal penting yang saya korbankan. Teman seangkatan pun banyak yang belum saya kenal secara individu, hanya saya tahu namanya saja. Dilihat dari usia, “The small I was and the Big I am now”  ataukah secara kualitas justru sebaliknya?

Ada kelebihan dan kekurangan yang ditawarkan masing-masing lingkungan, tinggal bagaimana kita memilah-milah mana yang baik untuk kita, mana nilai yang bisa ditiru dari lingkungan lain, dan mana nilai yang seharusnya tidak diikuti. Semua pasti ada hikmahnya.

Ya semoga Ramadhan kali ini di rantau, bisa menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat-semangat saya yang dulu. Makasi Allah, sudah mengingatkan saya atas kelalaian saya selama ini.. Alhamdulillah ~

Dan semoga nilai baik yang dulu pernah saya pelajari dan nilai baik yang dapat  saat ini bisa digabungkan untuk menjadikan saya seseorang yang jauh lebih baik. Sepertinya satu minggu menjelang Ramadhan ini bisa dimaksimalkan untuk membuka dan menata kembali lembaran-lembaran di dalam chapter buku kehidupan saya tiga tahun yang lalu. 

Yuk semangat yuk kita sambut Ramadhan yang penuh berkah ini  =)



Kenangan masa-masa kuliah di malang yang akan selalu saya rindukan:

Bersama teman-teman kelompok 6 (Oncology) PK2MABA FKUB 2008


Outbond angkatan di Coban Rondo (Sabtu, 28 Desember 2008)


Sesaat menjelang ujian anatomi yang pertama

Di sela-sela praktikum biokimia :)


Di walimahan Amalia Tri Utami (27 Februari 2011)

Dan sampai saat ini pun, saya masih menjadi bagian dari mereka walaupun sehari-hari saya tidak berada di antara mereka. Akan ada waktunya nanti kami semua dikumpulkan kembali, dengan suasana yang baru, dengan masing-masing pengetahuan yang dimiliki, bekerja sama sebagai teman sejawat