Pages

Jumat, 16 September 2011

Cinta dari Yang Terdekat

Ceritanya sore ini saya berencana untuk pulang ke malang pukul 15.20 bersama empat orang teman yang lain. Eh ternyata, berhubung sepertinya pulang jam segitu terlalu mepet, jadinya saya berganti pulang pukul 16.20 sedangkan teman-teman yang lain mendahului pulang sesuai rencana awal. “Wah jadi pulang sendiri ya”, pikirku.

Selangkah keluar dari pagar kos dalam hati, hanya dalam hati saya cuma berharap aja pengen gitu ya ketemu temen di jalan dengan tujuan yang searah, jadinya dapat tumpangan gitu ke gubeng, lumayan capek juga soalnya *hehe :P

Setelah beberapa langkah, saya ketemu ni sama tiga orang temen saya yang pada bawa tas besar-besar. Terjadilah tegur sapa dan percakapan kecil:

M:  “Eh, pada mau pulang juga ya. Ke Blitar ya? Waa barengan kalau gitu.. kok ga nyebrang?”
I : “Iya ini mau naik Lyn Myr.”
M: “Waa kalo gitu sampe ketemu ya ntar di gubeng, aku jalan kaki duluan ya, soalnya takutnya telat. Dadaaaa ;)”

Baru beberapa langkah kecil untuk menyeberang salah satu dari mereka memanggil:
A: “Myyyyyyr, yuk barengan, kita naik taxi.”
M: “Wa aku ga ada uang Yu, maaf yaa.”
A: “Gapapa Myr, aku yang bayarin.”
M: “Waaa, asik nii makasi yaa.”

Dasar saya yang udah seneng dapat tawaran gitu langsung aja mengiyakan. Jadilah kita berempat naik taxi ke gubeng, asik asik, adem, ga capek, bisa senderan pula. 

Sampe di gubeng ternyata dua orang temen yang tadinya berangkat dengan rencana awal pukul 15.20 ternyata masih ada di stasiun dan menyapa saya. Dua teman yang lain sudah berangkat duluan. Jadi ceritanya dua temen saya ini ketinggalan kereta. Jadilah kita akhirnya beramai-ramai pulang. Saya, dua orang teman dengan rencana awal, tiga teman ke Blitar, plus tiga adek angkatan asal malang yang juga berencana pulang. Sambil menunggu kerena, kita juga sempat lo belajar tentang pengukuran JVP yang kemarin baru diajarkan dokter Ami. Subhanallah sekaliiii, ini sih udah melebihi harapan saya. Inilah bukti tanda cinta dari Yang Terdekat. 

Ingat JVP, ingat v.Jugularis externa, ingat a. Carotis communis, ingat “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat padanya daripada urat lehernya.” (QS Qaf:16) 

Rabu, 27 Juli 2011

SERI CALON IBU #1

Tanpa disadari, seorang wanita dewasa telah disiapkan untuk menjadi calon ibu. Mengapa demikian? Jika kita mempelajari sistem reproduksi wanita maka akan kita temukan bahwasanya setiap harinya terjadi perubahan siklik di dalam ovarium dan uterus wanita mulai dari tingkat molekuler, sel, hingga sistem organ untuk mendukung terjadinya kehamilan. 


Ovarium setiap harinya menyiapkan beberapa folikel untuk dikembangkan hingga mencapai kematangan. Di dalam perjalanannya, beberapa folikel mengalami kematian (atresia) dan hanya tersisa satu folikel untuk mencapai kematangan sempurna. Ketika hendak mencapai masa ovulasi, folikel berisi sel telur (oosit) siap dilepaskan ke saluran telur (tuba fallopii) untuk selanjutnya menunggu datangnya sel sperma di bagian ampulla tuba fallopii.


Di sisi lain, uterus setiap harinya menyiapkan diri untuk menjadi tempat perlekatan atau tempat tinggal sementara bagi sel telur yang sudah dibuahi oleh sel sperma di mana nantinya hasil konsepsi tersebut akan berkembang menjadi janin. Ya, setiap harinya seorang wanita secara anatomi dan fisiologi telah dipersiapkan untuk menjadi seorang calon ibu. Mulai tingkat molekuler, sel, hingga sistem organ, seorang wanita telah Allah siapkan untuk menjadi calon ibu.

 .:: Dan sel pun telah bersiap menjadi janin


Jika secara fisik seorang wanita telah bersiap menjadi seorang calon ibu, sekarang mari kita melihat ke dalam hati dan jiwanya. Apakah ia telah menyiapkan dan menata hari serta jiwanya untuk menjadi seorang calon ibu? Apakah seorang wanita bisa dikatakan benar-benar siap menjadi seorang calon ibu? 


Sekalipun tidak mudah, menjadi ibu yang baik bukanlah sesuatu yang mustahil. Mendidik, membentuk pola pikir, menanamkan kebiasaan hidup yang Islami, serta memberikan asupan gizi yang terbaik bagi anak adalah sebagian tugas yang harus diperhatian oleh seorang ibu. Tidak ada salahnya jika dari sekarang kita para wanita menyiapkan datangnya masa itu dengan sebaik-baik persiapan, sehingga  keluaran yang dihasilkan bisa sesuai dengan yang diharapkan.


Salah satu hal yang cukup sederhana yang bisa kita persiapkan adalah belajar bagaimana memberikan asupan gizi yang optimal bagi tumbuh kembang anak-anak kita kelak. Menyiapkan makanan yang nikmat, menarik, serta sarat dengan gizi. Semisal memberikan sarapan berupa sandwich, yaitu roti yang berisi sayuran dan daging serta segelas susu hangat. Menyiapkan bekal sekolah untuk snack istirahat anak berupa kue dan buah. Menu makan siang berupa nasi sayur dengan berbagai lauk pauk serta segelas juice buah. Dan tak lupa menu maan malam berupa nasi sayur dengan lauk serta segelas susu hangat untuk pertumbuhan anak yang optimal di malam hari.

 .:: Makanan yang bergizi untuk tubuh kembang optimal anak

.:: Menyiapan makanan yang menarik tapi juga menyehatkan


Untuk hal sederhana tersebut, yuk kita sisihkan waktu luang yang kita punya untuk bereksperimen, berlatih dalam laboratorium dapur untuk menyiapkan makanan bergizi yang terbaik bagi anak-anak kita kelak.  

Jika tubuh kita telah bersiap diri untuk menjadi calon ibu maka hati dan jiwa kita juga harus ditata ya untuk bersiap menjadi ibu. Lakukan persiapan-persiapan, langkah sederhana untuk menyambut datangnya masa itu.

Yuk, bersiap menjadi calon ibu yang baik =)

NB:
Oya sekedar info ni, ini loh keponakan saya yang waktu itu, udah delapan bulan sekarang. 

 Lucu kan yaa.. bikin kangeenn. Moga sehat selalu dan bisa menjadi kebanggaan agama, negara, dan keluarga ya Khansa :)

Refleksi Ramadhan #1: “Masih ingat tiga tahun yang lalu?”

Hari ini tepat satu minggu menjelang Ramadhan. Ya syukur Alhamdulillah Allah masih memberikan saya kesempatan di usia yang ke-21 ini untuk bertemu dengan hari ini. Ramadhan sudah di depan mata, tetapi rasanya belum banyak persiapan yang saya lakukan. Ramadhan yang selalu dinanti, rasanya akan sangat berbeda tahun ini. Libur kuliah, tapi ada di rantau dan jauh dari keluarga.

Ketika malam-malam saya mencoba googling nama saya sendiri, di tengah-tengah berbagai pilihan data saya menemukan nama saya yang diketik oleh teman kuliah di malang dulu. Dia menceritakan beberapa hal yang dia lihat dari saya dan untuk beberapa saat saya tersentak dengan apa yang ditulisnya. Rasanya saya tiga tahun yang lalu, saya sangat bersemangat dan berani bermimpi. Ada perbedaan nilai yang saya pegang dulu dan sekarang. Malam ini Allah mengingatkan saya, seperti apa saya dulu dan seperti apa saya yang sekarang. Ada beberapa kemajuan, tapi ada beberapa kemunduran. 

Tiga tahun yang lalu, di usia yang ke-18, saya masih sangat bersemangat dan saya masih ingat di sela-sela ospek dulu saya bisa ketawa-ketawa dengan teman-teman, ya pokoknya saya dulu dikenal super berisik. Tapi itu bisa dilihat sebagai nilai plus karena saya bisa akrab dengan banyak teman di angkatan.

Tiga tahun yang lalu, berbagai organisasi intern kampus tercantum nama saya sebagai anggota, ada di BEM, LKI, LSIM, LAKESMA, dan MSCIA. Lima organisasi kampus saya masuki, berbagai kepanitiaan saya ikuti, bermacam-macam teman saya akrabi, tapi ya Alhamdulillah nilai kuliah saya ya baik-baik aja. Ya ndak extreme bagusnya, ya Alhamdulillah Allah ngasihnya bisa cumlaude. Makasi banyak ya Allah..

Saya yang sekarang berusia 21, berada di kampus yang baru, berada di angkatan yang seharusnya menjadi adik tingkat saya, rasanya saya sudah banyak berubah. Perbedaan lingkungan yang sangat nyata membuat nilai yang saya pegang pun ikut berubah. Lingkungan yang tadinya sangat religius diubah menjadi sangat memprioritaskan akademis (saya ndak tahu ini istilahnya apa ya). Yang tadinya saya bisa mengikuti banyak organisasi, sekarang mengikuti satu saja ndak terlalu aktif, ya karena memang muatan pendidikan yang diberikan dosen berbeda. Keadaan saya yang sekarang menuntut untuk berada di meja belajar lebih lama dan mengurangi kegiatan di laboratorium pertemanan. Untuk mendapat nilai yang sama baiknya dengan dulu perlu jerih payah ekstra padahal kegiatan saya ikuti bisa dikatakan minim.

Tiga tahun yang lalu, saya memiliki saudari-saudari kelompok liqo yang selalu mengingatkan saya kalau saya punya salah, sekarang Allah memberikan ganti saudari-saudari di rantau, sama baiknya, tapi karena usia saya yang lebih tua, saya lihat mereka punya rasa sungkan sama saya. Intensitas menghadiri kajian pun berkurang. Yang lebih sekarang porsi membaca dan menghapalkan diktat. Saya bersyukur Allah memberikan saya kesempatan untuk menimba ilmu dari dosen-dosen senior yang banyak memberikan pencerahan, tapi dengan itu ada beberapa hal penting yang saya korbankan. Teman seangkatan pun banyak yang belum saya kenal secara individu, hanya saya tahu namanya saja. Dilihat dari usia, “The small I was and the Big I am now”  ataukah secara kualitas justru sebaliknya?

Ada kelebihan dan kekurangan yang ditawarkan masing-masing lingkungan, tinggal bagaimana kita memilah-milah mana yang baik untuk kita, mana nilai yang bisa ditiru dari lingkungan lain, dan mana nilai yang seharusnya tidak diikuti. Semua pasti ada hikmahnya.

Ya semoga Ramadhan kali ini di rantau, bisa menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat-semangat saya yang dulu. Makasi Allah, sudah mengingatkan saya atas kelalaian saya selama ini.. Alhamdulillah ~

Dan semoga nilai baik yang dulu pernah saya pelajari dan nilai baik yang dapat  saat ini bisa digabungkan untuk menjadikan saya seseorang yang jauh lebih baik. Sepertinya satu minggu menjelang Ramadhan ini bisa dimaksimalkan untuk membuka dan menata kembali lembaran-lembaran di dalam chapter buku kehidupan saya tiga tahun yang lalu. 

Yuk semangat yuk kita sambut Ramadhan yang penuh berkah ini  =)



Kenangan masa-masa kuliah di malang yang akan selalu saya rindukan:

Bersama teman-teman kelompok 6 (Oncology) PK2MABA FKUB 2008


Outbond angkatan di Coban Rondo (Sabtu, 28 Desember 2008)


Sesaat menjelang ujian anatomi yang pertama

Di sela-sela praktikum biokimia :)


Di walimahan Amalia Tri Utami (27 Februari 2011)

Dan sampai saat ini pun, saya masih menjadi bagian dari mereka walaupun sehari-hari saya tidak berada di antara mereka. Akan ada waktunya nanti kami semua dikumpulkan kembali, dengan suasana yang baru, dengan masing-masing pengetahuan yang dimiliki, bekerja sama sebagai teman sejawat






Rabu, 23 Februari 2011

Refresh Our Mind, Kisah Rania Menghadapi SNMPTN

Ini cerita tentang seorang siswa Sekolah Menengah Atas, namanya Rania. Dia tinggal di sebuah kota kecil berhawa sejuk di Jawa Timur. Hidupnya sederhana. Uang saku yang diberikan orang tuanya untuk makan siang di sekolah terkadang dia sisihkan untuk membeli buku. Dia memang gemar membaca, sama seperti ayah dan kakaknya yang memiliki rak penuh dengan buku-buku. Untuk soal makan Rania memang bisa kompromi, menahan lapar saat istirahat di sekolah lebih dia pilih demi membeli buku-buku yang menjadi kegemarannya.

Suatu saat Rania membeli sebuah buku untuk meningkatkan motivasinya karena tahun depan dia akan mengikuti ujian masuk universitas dan dia merasa buku motivasi itu akan membantunya meningkatkan semangat. “Ya Allah, semoga buku ini bermanfaat yaaa”, dia berdoa sebelum membayarkan buku itu ke kasir. Sesuai dengan harapannya, setelah membaca buku itu, Rania menjadi semakin semangat belajar. Pulang sekolah dia membuka buku, mengerjakan PR, dan mengerjakan latihan soal untuk SNMPTN. Semangatnya seakan terbakar begitu terus hingga dua bulan menjelang SNMPTN.

Dua bulan terakhir, dia mulai dibingungkan oleh SNMPTN. Ujian Nasional sudah lewat, tinggal satu ujian penentuan ini. Satu ujian yang dikerjakan selama dua hari yang dari ujian itu masa depannya akan ditentukan. Yang membuat Rania bingung adalah jurusan apa yang akan menjadi pilihannya. Orang tuanya ingin Rania melanjutkan ke jurusan kedokteran.

“Supaya kamu bisa menolong orang banyak Nia, sebaik-baik manusia itu kan yang bisa memberi manfaat bagi sesamanya. InsyaAllah kalau Nia niatnya baik, Allah pasti membantu.” Kata ayahnya.

“Semua jurusan itu kan baik Pak. Ya kan disesuaikan minat, bakat, sama kemampuan ekonomi orang tua. Apa bapak yakin, bapak bisa membiayai Nia kalau sekolah di kedokteran? Biaya masuk sama SPP-nya kan mahal Pak. Buku-bukunya tebel, harganya mahal. Nia kalo ke toko buku sering lihat buku kedokteran harganya rata-rata di atas 200 Pak. Butuh bukunya juga banyak.” Kata Rania menanggapi saran ayahnya.

“Ya insyaAllah bisa Nia. Di halaman belakang buku yang baru Nia beli ada tulisannya kan? Man jadda wajada. Orang yang bersungguh-sungguh pasti mendapat kesuksesan. Kalau kita mau, pasti ada jalan. Selama niatnya baik, diiringi dengan usaha dan doa insyaAllah bisa. Bukan perkara berapa banyak penghasilannya nanti, tapi seberapa besar manfaat dan berkahnya. Bapak senang kalau Nia bisa jadi dokter.”

Dalam hatinya memang sering kali terbesit keinginan untuk menjadi dokter. Keinginan yang dia simpan rapat-rapat, tidak pernah dia katakan, baik pada orang tua, teman, maupun guru-guru yang menanyainya. Rania takut, dia bermimpi terlalu tinggi, sedangkan kemampuan akademik dan ekonomi orang tuanya mungkin tidak mencukupi untuk meraih impiannya menjadi mahasiswa kedokteran. Teman-teman sekelasnya cukup banyak yang menargetkan lolos jurusan kedokteran untuk SNMPTN, sementara Rania jika ditanya akan melanjutkan kemana seringkali hanya menjawab “Yaa.. mungkin Pendidikan Kimia atau Pendidikan Biologi”, “Apa ya? Belum kepikiran, nanti lihat-lihat kalau try out aja nyantolnya di mana”, atau “Apa aja yang penting nilai ma keuangan cukup, Teknik Material ITS mungkin”. Memang begitu jawaban dari mulutnya, tapi sebenarnya jauh di dalam hatinya ada keinginan tak terucap untuk melanjutkan ke kedokteran.

Suatu sore menjelang maghrib, ibu Rania sedang menyiapkan makanan dan teh hangat untuk menyambut kepulangan ayah Rania yang bekerja sebagai seorang guru. Di sela-sela persiapan membuat teh itu, ibu Nia tiba-tiba mengatakan,

“Nia, nanti kalau try out di tempat intensif pilih saja pilihan pertamanya kedokteran Unibraw, keduanya terserah Nia, yang penting di Malang. InsyaAllah bisa Nia. Nia kan nilainya bagus, di sekolah juga selalu tiga besar, bapak sama ibu juga mendoakan. InsyaAllah bisa. Yakin Nia, insyaAllah bisa. Bapak sama ibu pingin Nia jadi dokter. Memang sebenarnya hati Nia cenderung ke mana? Bapak sama ibu cuma mengarahkan, selama ini bapak ibu ndak tau Nia maunya di mana, apa sebenarnya Nia sudah punya pilihan sendiri? Ibu insyaAllah ndak maksa nduk”

Rania berusaha menata hatinya mendengar kata-kata ibunya sore itu, dia menjawab “Nia sebenernya ya pingin bu masuk kedokteran. Dari SD Nia pingin jadi dokter. Sampai sekarang pun Nia pingin. Nia pingin jadi dokter bukan karena terpaksa, karena bapak sama ibu mau, tapi Nia memang pingin bu. Ya tapi Nia tau bu, sekolah kedokteran itu mahal, harus pinter juga. Ga cuma sekedar pinter, tapi jadi yang terbaik. Kakak kelas Nia yang bisa masuk FK Unibraw tiap tahun ndak banyak bu, paling banyak dua belas, itu tahun lalu. Berarti kan Nia paling ndak harus jadi dua belas orang terbaik di antara temen-temen yang pingin masuk FK Unibraw. Yang sebenernya paling bikin Nia ga berani berharap ya karena biayanya itu bu, mahal. Bapak sama ibu kan masih punya tanggungan lain, mas Fakhri sama dik Dhea, nanti udah keterima di tengah-tengah takutnya ndak ada biaya”

“Jangan mikir biaya nduk. Yang kamu pikirkan itu belajarnya, minta sama Yang di Atas. Biaya itu urusan bapak sama ibu. Bapak sama ibu pasti usahakan Nia, nanti juga pasti kan ada tawaran beasiswa. Jangan pesimis, itu sama dengan kalah sebelum berperang. Mas Fakhri buktinya, bapak sama ibu ndak ngeluarkan uang buat SPP-nya, masmu dapat beasiswa dari kampus. Buku-buku dia pinjam dari perpustakaan. Nadia juga sekarang ndak terlalu banyak membutuhkan biaya. Bapak sama ibu usaha, mendoakan kamu juga. Kalau kamu bingung sholat istikharoh nduk, biar Allah yang kasih jawaban. Ini kan keputusan besar. Sertakan Allah dalam keputusanmu.”

Tahu keputusan besar akan diambil, dalam kebimbangannya Nia secara istiqomah melakukan sholat istikharoh menjelang tidur. Di sepertiga malam dia mengadu pada Allah, meminta petunjuk, minta diberi yang terbaik untuk diri dan keluarganya. Allah menjadi sahabat curhat terbaiknya. Allah pastilah lebih mengetahui apa yang ada dalam hatinya, bahkan mungkin lebih tahu dibandingkan dia sendiri, namun setiap malam Rania selalu mengadu, memohon pada-Nya. “Ya Allah, Ya Allah Ya Sami’ Ya Basir, Nia mohon supaya Nia bisa membanggakan orang tua Nia, apa pun keputusan-Mu, Nia yakin itu yang terbaik. Ya Allah Ya ‘Alim, Engkau lebih mengetahui apa yang Nia dan keluarga butuhkan. Nia ingin yang terbaik menurut kadar-Mu. Ya Allah Ya Mujib, perkenankan Nia menjadi anak yang berbakti pada orang tua dengan cara-Mu. Ya Allah Ya Hakam, segala keputusan adalah milik-Mu. Kekuasaan-Mu meliputi langit dan bumi. Hamba berserah pada-Mu Ya Allah.”

Tujuh try out berturut-turut Nia berhasil mendapatkan nilai yang cukup untuk lolos kedokteran Unibraw. Beberapa di antaranya bahkan jauh melebihi. Begitu kerasnya usaha Rania hingga terkadang dalam mimpinya pun dia sedang mengerjakan soal ujian masuk. Soal-soal yang dia kerjakan dalam mimpinya itu kadang masih dia ingat hingga bangun tidur. Rania semakin yakin, insyaAllah azzamnya akan tercapai dengan perkenan-Nya. Minggu depan ujian yang sesungguhnya akan dilangsungkan. Selama seminggu ini Nia beristirahat dari rutinitas intensif dan mengerjakan latihan soal. Merilekskan pikiran untuk mengahapi ujian masuk pekan depan.

Tepat tanggal 1-2 Juli 2008, ujian masuk universitas negeri dilangsungkan. Rania mengerjakan soal-soal itu, memulai dan mengakhirinya dengan doa dan harapan semoga diberi yang terbaik oleh-Nya. Selama satu bulan hingga 1 Agustus 2008, Rania tidak memiliki kesibukan apa-apa. Sambil menunggu pengumuman ujian masuk, Rania menyibukkan diri membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah, membaca buku-buku yang dipinjamnya dari perpustakaan kota, bertandang ke rumah teman-teman SMA, membantu adiknya mengerjakan PR, hingga mengunjungi kampus impiannya. Seusai sholat maghrib pada tanggal 31 Juli 2008, seorang teman menelpon Rania

“Nia, udah liat pengumuman di internet? Kamu keterima di mana Nia?” kata Anggun, temannya dalam sambungan telepon.

“Lho? Bukannya nanti malam jam 12 ya baru diumumkan?” Jawabnya pada Anggun.

“Udah bisa diliat Nia, aku keterima di Industri ITS. Udah Nia, cepetan kamu buka, sebelum ntar tambah banyak yang buka jadinya lemot. Ntar kabarin aku yaa.. Buruan Nia. Assalamualaykum.” Begitu Anggun mengakhiri sambungan teleponnya.

Nia bergegas menuruni tangga, menyalakan komputer, dan mengetikkan nomor pesertanya pada halaman pengumuman ujian masuk. Beberapa detik hingga halaman pengumuman terbuka. Beberapa detik bagaikan antara hidup dan mati.

Saat terbuka, halaman itu mengabarkan suatu ucapan selamat baginya karena telah lolos menembus pilihan pertamanya, Pendidikan Dokter Universitas Brawijaya. Rania merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat, Rania berusaha meyakinkan diri sekali lagi, dia keluar dari halaman itu, mengetik ulang nomor peserta ujiannya, berharap halaman yang sama memberikan ucapan selamat. Ternyata hasilnya tetap. “Terima kasih ya Allah”, ucapnya seraya melakukan sujud syukur.

“Udah keluar nduk hasilnya?”, tanya ibu Rania yang melihat anaknya meneteskan air mata, bahagia tidak terkira.

“Sudah bu. Ini bu, ini coba lihat. Nia lolos bu. Alhamdulillah Nia lolos.” Kata-kata itu begitu saja keluar dari bibirnya yang gemetaran menerima kabar yang begitu mengguncang hatinya. Sebuah pelukan dihadiahkan sang ibu bagi putri tercintanya. Allah Maha Besar.

Rania menjadi satu dari delapan teman SMA-nya yang berhasil lolos menjadi mahasiwa kedokteran Unibraw. Satu keberuntungan dan satu lagi amanah yang Allah titipkan untuk Rania sore itu. Sore itu, langit yang sudah tidak lagi kemerahan menjadi saksi kebahagiaan Rania dan ibunya. Menjadi saksi dari satu amanah baru yang akan Rania jalani lima tahun ke depan hingga saatnya bertemu dengan-Nya.

-fin-

Kisah Rania di atas terinspirasi dari beberapa teman lama semasa SNMPTN 2008. Untuk teman-teman yang sudah melewati masa-masa itu, semoga kisah ini mengingatkan kita kembali akan semangat kerja keras pada saat menjelang SNMPTN, juga sebagai bentuk syukur bahwasanya kita sangat beruntung diberi kesempatan untuk menjalani perkuliahan, satu bangku yang kita dapat dari ribuan pelamar yang memperebutkan. Semoga bisa mengingatkan kita akan masa-masa indah itu untuk diceritakan ke anak-cucu kelak. Apa yang Allah kasih itu yang terbaik buat kita dan sekarang saatnya kita meneruskan perjuangan dengan semangat yang sama besarnya atau bahkan lebih dibanding saat menjelang SNMPTN dulu. Buktikan kalau Allah nggak salah menitipkan amanahnya pada kita, buktikan bahwasanya kitalah orang-orang yang terbaik pada setiap bidang yang kita jalani.

Untuk adik-adik yang akan menjalani SNMPTN 2011, memang kisah Rania bukan kisah nyata. Kisah Rania adalah kompilasi dari beberapa teman yang pastinya ada di dunia nyata =). Semoga bisa menjadi bahan bakar perjuangan. Dari kisah Rania ini, ada beberapa pesan yang insyaAllah bisa menjadi tips menjelang SNMPTN:

1. Niatkan untuk beribadah, luruskan niat
Suatu perbuatan itu dinilai dari niatnya, kalau niatnya baik, insyaAllah berkah akan mengiringi, kemudahan demi kemudahan akan ditemui 

2. Konsultasikan jurusan pilihan kita pada orang tua
Sebagai penanggung biaya sekolah kita, tentunya kita tidak bisa memaksakan kehendak menginginkan suatu jurusan tertentu yang mungkin tidak sesuai dengan kondisi keuangan orang tua. Selain itu, orang tua insyaAllah bisa mengarahkan kita, memberikan saran-saran yang membantu. Ridho Allah kan ada pada ridho orang tua. Pastikan orang tua menyetujui jurusan yang kita pilih, supaya mendapat berkah pada setiap langkah kita.

3. Berusaha keras, rajin-rajin mengerjakan latihan soal
Ya pastinya setiap keinginan harus dibarengi dengan usaha. Allah ingin melihat seberapa keras usaha kita. Tunjukkan pada-Nya bahwasanya kita bisa. Nothing is impossible. Kalau Allah berkehendak apa pun penghalangnya ndak akan berarti. Latihan soal insyaAllah akan mempertajam pikiran kita dalam menyelesaikan soal. Semakin banyak berlatih maka kita akan semakin lancar mengerjakan soal karena sudah terbiasa dengan soal dan tahu bagaimana solusinya.  

4. Ukur kemampuan, misalnya dengan try out
InsyaAllah try out bisa memberi gambaran seberapa kemampuan kita. Jika rata-rata try out mendapat skor X maka kurang lebih kemampuan kita ada di situ. Pilihlah jurusan dan universitas yang sesuai dengan rata-rata skor. Bisa juga pilihan pertama sedikit di atas X, tapi pastikan pilihan kedua ada di bawah X supaya kesempatan untuk lolos tetap terbuka. SNMPTN adalah kesempatan satu kali dalam setahun, jangan gegabah mengambil keputusan karena jika salah harus mengulang di tahun selanjutnya.

5. Lengkapi dengan istikharoh dan sholat malam
Keputusan besar akan diambil, sertakan Allah dalam pengambilan keputusan. Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk kita, sekali pun kita sudah mengukur baik-buruk, yang mengetahui rahasia masa depan hanya Allah yang menggenggam hidup kita. Sholat malam itu penting, Allah akan mengangkat derajat kita di sisi-Nya kalau mengerjakannya secara istiqomah. Banyak orang yang berhasil mendapatkan kehidupan sukses berkah kebiasaannya menjalankan sholat malam. Kalau pun kita belum mampu, Allah akan memampukan kita dengan karunia-Nya. InsyaAllah

6. Berbaik sangka pada-Nya
Allah sesuai dengan prasangkaan hamba-Nya, jadi harus yakin ya. Kalau kita optimis insyaAllah langkah-langkah ke depan akan terasa ringan dan penuh semangat (optimis akan membuat kita makin kuat menjalani aktivitas)

7. Orientasi pada Manfaat
Pastikan bahwa jurusan yang kita pilih adalah yang paling bisa kita lakukan untuk memberikan manfaat bagi sesama. Dari semua ilmu yang kita dapat, dari semua textbook yang kita baca, setinggi apa pun ilmunya tidak akan ada nilainya jika tidak memberi manfaat bagi sesama. Ilmu walau sedikit akan lebih baik jika ditebarkan, dari pada ilmu yang setinggi langit tapi disimpan sendiri

8. Istirahat seminggu menjelang ujian
Supaya otak fresh, tidak terbebani, dan tidak kelelahan di ‘medan perang’. Cara ini sudah saya buktikan dan insyaAllah bermanfaat =)

9. Tawakkal, serahkan semua sama Yang di Atas
Ada banyak faktor yang menentukan lulus tidaknya seseorang pada SNMPTN, mulai dari kemampuan akademik, kesiapan mental, hingga permasalahan teknis seperti pensil yang sesuai, lembar jawaban komputer yang tidak cacat, datang tepat waktu, dan lain-lain. Semua faktor yang menentukan tersebut harus diperhatikan dengan baik. Namun, kembali lagi, Allah yang memutuskan. Allah pasti memberikan yang terbaik, lapangkan hati seluas langit dan bumi, ikhlas menerima keputusan-Nya. Wallahu ‘Alam

Oya satu lagi, menurut salah satu guru SMA saya, rajin-rajin juga bersedekah, rajin-rajin membantu orang tua, sholat subuh jangan telat (Pada saat itu malaikat turun dan melihat kita sholat). InsyaAllah akan dimudahkan urusan kita. Ya tapi sedekahnya harus ikhlas yaa..hhehe

Semoga bermanfaat =)

Selasa, 21 Desember 2010

Kaderisasi Ideal: Tonggak Lahirnya Generasi Emas Bangsa

Tulisan yang saya publish kali ini adalah salah satu tugas pemutihan ospek saya, ACHILLES 2010. Semoga bermanfaat =)


Kaderisasi Ideal: Tonggak Lahirnya Generasi Emas Bangsa

Ibarat pertandingan lari secara estafet, dimana pelari pertama menyerahkan tongkat estafet ke pelari kedua, pelari kedua menyerahkan tongkat ke pelari ketiga, dan begitu pula seterusnya hingga pelari terakhir mencapai garis finish. Kurang lebih seperti itulah perjalanan mahasiswa dalam organisasi kemahasiswaan. Pelari pertama diibaratkan sebagai seorang kakak senior dan pelari kedua adalah adik junior yang pada waktunya akan menerima ‘tongkat estafet’ berupa amanah dan tanggung jawab untuk menjalankan roda pergerakan kemahasiswaan yang telah dirintis oleh kakak seniornya. Semua pelari bertujuan menyampaikan tongkat estafet ke garis finish yang dapat diartikan sebagai tujuan bersama dalam mewujudkan visi-misi organisasi kemahasiswaan. 

.:: seorang adik pada waktunya akan menerima ‘tongkat estafet’ berupa amanah dan tanggung jawab

Seorang kakak tidak akan selamanya mengemban amanahnya. Pada akhirnya, ia akan menyerahkan amanah tersebut kepada adiknya yang harapannya memiliki semangat, ide-ide, dan energi yang baru. Namun, sebelum seorang kakak menyerahkan amanah dan tanggung jawab yang diembannya kepada adiknya, ia perlu membantu sang adik untuk mempersiapkan diri sehingga ia menjadi orang-orang terbaik yang memiliki kualitas tinggi untuk mengemban amanah tersebut. Proses tersebut dilakukan dalam suatu alur kaderisasi yang dilakukan secara bertahap dan bertingkat.
           
Untuk menghasilkan kader-kader terbaik, tentunya dibutuhkan proses kaderisasi yang baik pula, dimana nilai-nilai yang ingin ditanamkan seorang kakak kepada adiknya dapat ditumbuhkan sesuai tujuan akhir yang diharapkan. Menjaga komitmen adalah suatu hal yang harus ada dalam diri seorang kakak mulai dari dari nol hingga saatnya pergantian. Seorang kakak harus mengerti tanggung jawabnya, tidak hanya berkontribusi sampai masa kepengurusannya berakhir, tetapi juga hingga masa pergantian kepengurusan dimana ia berkewajiban untuk mendidik adik-adiknya.

Ada nilai-nilai yang harus ada dalam proses kaderisasi agar berhasil melahirkan kader-kader terbaik yang memiliki semangat dan komitmen yang tak mati. Nilai-nilai tersebut diantaranya:

1. Religius
Agama adalah penuntun hidup, dimana ialah yang akan mengarahkan segala tindakan manusia sehingga manusia dapat menjalanan hidup sesuai fitrahnya. Kegiatan kaderisasi yang baik haruslah memegang teguh nilai-nilai religiusitas dalam kegiatannya. Nilai religiusitas ini dapat dimunculkan dalam kegiatan kaderisasi misalnya dengan mengadakan ice breaking dengan pesan-pesan moral, memutar video-video dengan pesan-pesan religius, memotivasi adik dengan memberikan kata-kata mutiara di sela-sela kegiatan atau pun di log book kaderisasi, dan mentoring intensif bersama (sesuai dengan kepercayaan masing-masing).

2. Mendidik dengan Hati
Hati adalah kunci utama dalam menciptakan suatu perubahan. Seseorang bisa berubah ketika telah disentuh hatinya. Hati adalah bagian terpenting dalam diri seorang manusia. Manusia dianugerahkkan mata, telinga, dan hati supaya ia bisa merasakan. Jika mata buta, seseorang masih memiliki perasaan yang ada dalam hati sehingga ia dapat melihat dengan hatinya. Jika telinga yang tuli, ia masih bisa mendengarkan suara hatinya. Hati inilah yang sejatinya tidak menjadi buta, tidak menjadi tuli, dan tidak pula mati. Ketika hati ini baik maka baiklah semua yang ada dalam diri seorang insan. Hati ini hanya dapat disentuh dengan hati. Hati tersebut menyentuh dengan kelembutan akhlak. 

 .:: mendidik dengan tulus ikhlas, dengan hikmah, dan dengan kelembutan hati

Seorang kakak ketika mendidik dengan tulus ikhlas, dengan hikmah, dan dengan kelembutan hati maka adalah suatu keniscayaan bahwasanya sang adik akan tersentuh dan menurutinya. Ketika seseorang telah tersentuh hatinya, telah dilunakkan hatinya untuk memperoleh suatu ilmu maka ilmu tersebut akan mengakar dengan kuat di dalam dirinya. Mendidik dengan hati artinya menggunakan cara-cara yang baik, tidak dengan kata-kata atau perbuatan yang kasar.

3. Kakak sebagai Role Model
Seorang kakak kadangkala tidak memahami urgensinya sebagai teladan bagi adiknya. Jika seorang adik melakukan kesalahan maka sejatinya seorang kakak berkaca diri apakah perilaku adiknya tersebut adalah apa yang telah ia contohkan. Memberi teladan yang baik bagi seorang adik dapat dilakukan seorang kakak mulai dari hal yang kecil misalnya mencontohkan cara berpakaian yang baik, sebagai contoh, sebagai seorang tenaga medis yang nantinya akan berhubungan dengan manusia maka sepantasnya ia menggunakan pakaian yang menjadi standar pakaian seorang tenaga medis, yaitu menggunakan celana/rok bahan, tidak menggunakan kaos, menggunakan sepatu, serta berpakaian yang bersih, rapi, dan tidak menebarkan bau yang tidak sedap. Seorang pasien ketika bertemu dengan tenaga medis maka yang pertama kali ia lihat adalah penampilan tenaga medis tersebut. Ia bisa percaya, menghormati, atau pun meremehkan seorang tenaga medis hanya dikarenakan cara berpakaiannya.

Berkata-kata yang baik, jujur, disiplin, dan menepati janji adalah contoh-contoh teladan baik yang harus dimiliki seorang kakak sehingga ketika sang adik tidak bisa mengikuti apa yang telah dicontohkan kakaknya, ia akan merasa malu dan dengan otomatis ia akan berusaha untuk menjadi sama baiknya atau pun lebih baik daripada kakaknya.   

4. Memberi Bimbingan
Seringkali seorang kakak mengharapkan sang adik untuk menjadi lebih baik dari dirinya dan tidak mengulangi kesalahan yang telah ia perbuat. Namun, harapan tersebut tidak jarang pula tidak diikuti keistiqomahan sang kakak untuk membimbing adiknya dalam mewujudkan harapannya tersebut. Ia mengharapkan sesuatu yang ‘lebih’ tetapi hanya sebatas di hati dan lisan saja, tidak ada tindakan nyata yang ia wujudkan dalam mencapai tujuan itu.

 .:: memberi bimbingan yang jelas dan transparan serta bukan membingungkan

Seorang kakak sejatinya memberikan bimbingan kepada adiknya berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah ia peroleh. Pengalaman yang diperoleh tersebut akan menjadi pelajaran terbaik untuk membimbing sang adik hingga akhirnya ia bisa berjalan di atas kedua kakinya sendiri.  Membimbing sang adik, mengarahkan dari tidak tahu menjadi paham dan bisa menjalankan amanahnya dengan sebaik-baiknya. Memberi tahukan mana yang benar dan seharusnya dilakukan serta mana yang salah dan sebaiknya dihindari, memberi bimbingan yang jelas dan transparan serta bukan membingungkan adalah hal yang harus dilakukan sang kakak dalam proses membimbing adiknya.

5. Professional
Proses kaderisasi dilakukan secara professional, sungguh-sungguh, dan totalitas. Professional artinya adalah baik di segala sisi, berimbang di setiap bidang, dan tidak overlapping. Berkompeten saja tidak cukup, dibutuhkan pula moralitas. Begitulah makna professional, ia baik dan dilakukan pula dengan cara yang baik. Nilai professionalitas tersebut dapat ditumbuhkan dengan melakukan kegiatan-kegiatan semisal pemutaran video-video orang-orang sukses yang memiliki kepribadian unggul dan mengenalkan amanah yang akan ia emban dengan melakukan diskusi dan tanya jawab.

6. Keakraban Kakak dengan Adiknya
Seorang siswa bisa begitu membenci atau menyukai suatu mata pelajaran di bangku sekolah juga sangat dipengaruhi oleh siapa pendidiknya. Dalam hal ini, pendidik apakah orang yang kaku ataukah orang yang akrab dan bisa diajak bercerita oleh siswanya. Membuka komunikasi dapat dilakukan dengan cara mengakrabkan diri terlebih dahulu. Sejatinya tidak ada istilah ‘senioritas’ diantara kakak dan adik karena tujuan yang ingin dicapai bersama menuntut kerjasama yang sinergis dimana kerjasama tersebut akan memberikan hasil lebih jika dibandingkan kemampuan masing-masing individu jika diakumulasikan. Kakak dan adik bekerjasama sebagai kolega atau pun sejawat yang sejajar sesuai dengan perannya masing-masing. Rasa hormat adik kepada kakak tidak akan berkurang, tetapi akan terus lebih dan lebih jika sang kakak dapat memposisikan dirinya sebagai kakak yang mengayomi dan tidak dengan paksaan.

7. Solidaritas

.:: kerjasama untuk mencapai satu tujuan bersama

Kerjasama dapat memberikan hasil yang baik jika didalamnya terdapat cinta akan kebersamaan itu sendiri. Suatu keniscayaan bahwasanya seseorang tidak mungkin hidup sendiri tanpa bantuan orang lain sehingga dibutuhkan kerjasama dalam mencapai suatu tujuan. Kerjasama ini dapat ditumbuhkan dengan komunikasi yang baik dan juga melalui kegiatan-kegiatan yang menuntut kerjasama antarindividu, misalnya melalui kegiatan outbond sehingga setiap individu sadar bahwasanya mereka berada dalam suatu organisasi, satu tubuh dimana ketika satu bagian sakit, maka bagian tubuh yang lain akan merasa sakit pula.

8. Komitmen
Komitmen dalam menjalankan amanah. Komitmen dalam menjaga motivasi dan semangat. Komitmen dalam menyuguhkan madrasah terbaik yang melahirkan generasi emas bangsa.

.:: seperti obor yang terus menyala, komitmen untuk terus memberikan cahayanya

Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain. Seorang kakak harus menjaga komitmennya dalam mendidik adik-adiknya dan menanamkan sifat tersebut pula kepada adiknya. Komitmen adalah suatu sikap istiqomah, menjaga nilai-nilai yang telah ditanamkan agar tetap hidup dan terjaga. Sebuah batu yang keras dapat dilubangi oleh tetesan-tetesan air hujan yang lembut, yang istiqomah menerpanya. Begitu pentingnya suatu komitmen sehingga nilai tersebut harus ditanamkan secara baik oleh seorang kakak kepada adiknya.

Nilai-nilai tersebut jika diaplikasikan dalam proses pengkaderan maka harapannya akan lahirlah kader-kader yang memiliki religiusitas, berakhlak mulia, berkompeten di bidangnya, dapat bekerja secara sinergis, professional dan altruistik, serta memiliki komitmen yang tinggi untuk kemajuan bersama.

Kita mulai dari diri sendiri, dari sekarang, dan dari hal yang terkecil sebagai tonggak lahirnya generasi emas terbaik bangsa.