Pages

Senin, 08 November 2010

Bicara Tentang Kedudukan Hati dalam Pendidikan dan Metamorfosis Kehidupan

“Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya tidak lain dan tidak bukan itulah yg dikatakan hati.”

Kawan-kawan tentunya masih ingat dengan hadits di atas, hadits yang menjelaskan tentang hakikat qalbu (hati) yang ada dalam diri setiap insani. Hati adalah satu bagian tubuh yang menjadi cerminan penggerak segala aktivitas kita. Ketika kita memperkenalkan diri “Nama saya Mia” maka bagian yang kita tunjuk dengan telapak tangan kita adalah dada, bukan kepala, bukan wajah, atau bagian lain dalam tubuh kita. Bagian yang dipentingkan dalam diri manusia bisa jadi menurut kita adalah akal, yang secara fisik berada di dalam otak, di kepala. Namun, pada saat memperkenalkan diri, bagian dadalah yang kita tunjuk. Bagian dada, tempat bersemayamnya hati. 

Hati adalah tempat dimana Allah mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada manusia. Kehadiran-Nya terasa didalam hati. Hati, tempat Allah menyentuhkan ajarannya pada para nabi dan rasul. Dan hati, sejatinya adalah bagian yang dipentingkan dalam diri manusia. Hati, yang jika dia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Hati, jika ia baik, maka akhlak pemiliknya akan baik, segala aktivitas dan sikapnya  akan merujuk pada suri tauladan Rasulullah. 

  .::Hati adalah tempat dimana Allah mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada manusia

Menghadirkan Hati dalam Proses Pendidikan

Ketika seseorang menunjukkan sikap yang kurang baik maka yang perlu ditanyakan adalah “Apa yang dimakan oleh hatinya?” Karena hati yang mendapat makanan cenderung akan melahirkan sikap-sikap yang sesuai dengan makanan yang diberikan. Perubahan itu sejatinya dimulai dari hati dan hati hanya bisa disentuh dengan hati. Ya, dengan hati, bukan dengan kekerasan. Perubahan adalah proses dan proses itu membutuhkan arahan melalui pendidikan. Ketika kelak kita menjadi orang tua, untuk mengajarkan anak-anak kita tentang nilai-nilai Islam dan pendidikan hidup maka tanamkanlah dengan baik, dengan sentuhan hati, bukan dengan kekerasan, bukan dengan bentakan, bukan dengan kata-kata kotor, dan bukan dengan pukulan.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul seorang pun dengan tangannya kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah membalas suatu aniaya yang ditimpakan orang atas dirinya. Selama orang itu tidak melanggar kehormatan Allah. Namun, bila sedikit saja kehormatan Allah dilanggar orang, maka beliau akan membalasnya semata-mata karena Allah.”
(HR. Ahmad)

Ketika kita mendidik dengan kekerasan, pada saat itu sesungguhnya kita sedang mengajarkan anak kita untuk mencoreng hatinya.

“Sesungguhnya orang beriman itu, kalau berdosa, akan terbentuk bercak hitam di qalbunya”.
(HR Ibnu Majah)

Jika telah terbentuk bercak hitam di hatinya, maka  bercak itu akan semakin meluas dan meluas karena hati kita jika baik maka kita akan cenderung berbuat yang baik-baik, memupuk kebaikan, dan meningkatkan kebaikan-kebaikan kita, tetapi sekalinya kita berbuat keburukan, maka kita akan cenderung melahirkan perbuatan-perbuatan yang tidak baik.

Segala kebaikan itu ditanamkan melalui proses pendidikan. Pendidikan adalah seumpama batu pijakan untuk kita melangkah dan melompat lebih tinggi. Pendidikan itu yang akan menjadi dasar tindakan kita. Pendidikan yang PERTAMA KALI diberikan kepada kitalah yang akan mengakar kuat dalam hati yang nantinya akan mengarahkan segala tindakan-tindakan kita. 

Ketika seorang anak melakukan kenakalan terlebih dahulu yang harus kita tanyakan adalah “Pendidikan seperti apa yang diberikan oleh orang tuanya?” Lantas, mengapa bukan si anak langsung yang kita dakwa? Karena anak adalah umpamanya kain-kain putih, ia bersih dan tidak berwarna. Yang menjadikannya kain-kain berwarna-warni indah ataupun kain-kain rombeng adalah ORANG TUA mereka selaku PENDIDIK yang memberikan CELUPAN WARNA kepada mereka. Anak yang diamanahkan Allah SWT kepada orang tua terlahir dengan TIDAK MENGETAHUI APA-APA dan kitalah pada saatnya nanti yang akan mencelupkan warna-warna pada kain putih anak kita tersebut melalui pendidikan yang kita tanamkan padanya.


Mendidik dengan Kelembutan Hati dan Ketinggian Akhlak

Allah mengajarkan kita dalam kitab-Nya, 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[1] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” 
(QS An Nahl: 125)

Yang ditunjukkan dalam surat di atas adalah bagaimana cara kita bersikap terhadap orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita. Namun, pelajaran yang dapat diambil disini adalah SERULAH dengan cara yang HIKMAH dan PELAJARAN yang BAIK. Tentunya, motto kampus kita ini Excellence with Morality bukanlah sekedar simbol bahwasanya mahasiswa Airlangga adalah mahasiswa paripurna, memiliki kemampuan akademik yang excellence namun tetap berpegang teguh pada koridor MORAL yang excellence pula. Motto itu ibarat kunci kita dalam membuka pintu-pintu menuju chapter kehidupan kita selanjutnya, menggunakan ilmu yang kita dapat melalui proses akademik dengan tetap berpedoman pada moralitas yang terletak di HATI.

”Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” 
(Al-A’raf : 179)

Kita dianugerahkan oleh-Nya hati yang bersih yang dengannya kita akan tergerak melakukan segala aktivitas kita. Anugerah itu sejatinya kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Memberikan sentuhan hati dalam setiap aktivitas pendidikan kita. Karena sekarang sudah bukan masanya kita mencari makan dengan kekerasan, dengan berburu seperti zaman purbakala dulu. Sekarang adalah masanya kita hidup dengan kebijaksanaan seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Memberi sentuhan hati dalam setiap aktivitas kita. Memberi sentuhan hati dalam setiap pengabdian kita. Memberi sentuhan dalam sholat kita. Memberi sentuhan dalam kegiatan belajar kita.

 
Lantas, akankah kita mendidik anak-anak yang telah diamanahkan kepada kita dengan kekerasan?

[1]Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar